MACAM MACAM TEKNIK BERCERITA
Dalam menyampaikan suatu cerita, seorang konselor atau pembimbing dapat menggunakan berbagai cara ataupun teknik. Teknik mana yang akan dipilih bisa disesuaikan dengan usia siswa, tujuan yang akan dicapai, sarana prasarana yang tersedia serta kesiapan dari pembimbing sendiri. Menurut Moeslikhatoen R (1999), beberapa teknik bercerita, antara lain yaitu:
1. Bercerita dengan membaca buku cerita. Teknik ini dilakukan dengan cara pembimbing atau konselor menyampaikan cerita dengan membacakan buku cerita secara langsung. Teknik ini bias digunakan apabila pembimbing yakin bahwa tema dan materi cerita yang dibacakan benar-benar sesuai dengan materi dan kompetensi bimbingan yang akan dicapai. Agar cerita yang disampaikan tetap menarik, maka pembimbing disyaratakan menguasai teknik membaca dengan baik. Aspek yang perlu diperhatikan seperti intonasi suara, cara pelafalan kata atau kalimat, tempo, warna suara serta ekspresi yang menggambarkan suasana cerita.
2. Bercerita dengan menggunakan ilustrasi gambar. Pembimbing dapat menyampaikan cerita dengan menggunakan ilustrasi gambar sebagai media. Penggunakan gambar dapat menarik perhatian siswa sehingga dapat membantu dalam memusatkan perhatian terhadap cerita yang sedang disampaikan. Di samaping itu, ilustrasi gambar juga dapat membantu siswa agar lebih mudah dalam menangkap pesan-pesan yang disampaikan dalam cerita. Ilustarsi gambar dapat berupa gambar seri maupun gambar lepas. Gambar berseri merupakan sejumlah gambar yang menggambarkan suasana yang sedang diceritakan dan menunjukkan adanya kontinyuitas antara gambar yang satu dengan lainnya. Sedang gambar lepas merupakan gambar yang menunjukkan situasi ataupun tokoh dalam cerita yang dipilih untuk menggambarkan situasi-situasi tertentu, antara gambar satu dengan lainnya tidak menunjukkan kontinyuitas.
3. Bercerita dengan menggunakan papan flannel. Apabila dalam bercerita hendak menekankan pada urutan kejadian dan karakter tokoh sebagai model bagi siswa, maka tokoh-tokoh yang dimodelkan tersebut dapat digambarkan dan ditempel di papan flannel. Papan flannel merupakan media berupa papan seperti papan tulis, yang dilapisi kain flannel yang dapat digunakan untuk menempel gambar-gambar. Gambar-gambar tersebut dapat disiapkan sendiri oleh pembimbing ataupun mengambil gambar yang sudah ada seperti dari majalah atau Koran yang digunting sesuai dengan pola yang diinginkan. Bagian belakang dari kertas bergambar tersebut kemudian dilapisi dengan kertas gosok atau kaian perekat sebagai media untuk merekatkan di papan flannel. Gambar-gambar yang disiapkan dapat ditempel ataupun diambil kembali sesuai dengan kebutuhan pada saat proses penyampaian cerita.
4. Bercerita dengan menggunakan media boneka. Tokoh yang terlibat dalam suatu cerita, dapat ditampilkan melalui sosok boneka. Boneka yang digunakan bisa berbentuk boneka manusia maupun boneka binatang. Boneka tersebut digunakan untuk menunjukkan karakter atau watak dari pemegang peran dalam cerita.
5. Bercerita dengan dramatisasi. Ketika pembimbing menyampaikan suatu cerita, maka pembimbing melakukannnya sambil memainkan karakter dari tokoh yang sedang diceritakan. Misalnya ketika menceritakan seorang kakek yang berjalan tertatih-tatih dengan membawa tongkat, maka pembimbing menirukan sebagaimana jalannya seorang kakek yang tertatih-tatih.
6. Bercerita dengan memainkan jari tangan. Pembimbing dapat berkreasi menciptakan cerita yang disampaikan dengan cara memainkan jari-jari tangan. Jari-jari digunakan sebagai alat untuk menggambarkan bentuk-bentuk tertentu untuk mewakili tokoh dalam cerita seperti bentuk burung terbang, bentuk kepala anjing ataupun untuk menggambarkan aktivitas tertentu.
(BERSAMBUNG)
Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di Social Bookmarking Indonesia http://www.infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
http://www.infogue.com/
http://pendidikan.infogue.com/teknik_bercerita_dalam_bimbingan_dan_konseling_seri_4_