BERCERITA SEBAGAI TEKNIK DALAM BIMBINGAN KONSELING
Bercerita selama ini telah digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran Bahasa. Namun demikian, dalam perkembangannya bercerita juga dipandang bisa digunakan dalam pembelajaran selain bidang bahasa, seperti matapelajaran matematika, PPKN dan sebagainya (Republika, 16 Juli 2004).
Sebagai suatu teknik dalam pembelajaran, bercerita bermanfaat bagi siswa dalam mengembangkan aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik. Sebab melalui cerita, siswa mendapatkan informasi tentang fakta, konsep maupun pengetahuan yang terangkai dalam suatu kisah. Cerita juga menampilkan model-model perilaku yang ditunjukkan oleh para pemegang peran atau tokoh dalam cerita.
Para siswa sebagai penyimak cerita, biasanya juga terlibat secara emosional pada saat mendengar atau membaca cerita. Dengan demikian maka baik aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik siswa dapat dibantu perkembangannya melalui bercerita.
Sebagai suatu teknik dalam pembelajaran, bercerita memiliki beberapa kelebihan dibanding dengan teknik yang lain.
Kelebihan teknik tersebut sebagaimana disarikan dari pendapatnya Muslikhatun (1996) dan Abdul Aziz Abdul Majid (2003) adalah sebagai berikut:
1. Melalui cerita dapat memberi suasana yang menyenangkan dan mengasyikkan, sebab cerita merupakan bentuk dari seni sastra yang memiliki keindahan dan kenikmatan, terlebih jika isi cerita dekat dengan lingkungan kehidupan anak.
2. Cerita yang menyajikan model perilaku melalui tokoh yang diceritakan dan sarat dengan nilai-nilai, mampu menanamkan sikap jujur, berani, setia, ramah dan sikap positif lainnya yang berguna dalam pembentukan budi pekerti atau kepribadian peserta didik.
3. Melalui cerita dapat mengenalkan fakta-fakta alam sekitar maupun pengetahuan sosial yang berguna bagi perkembangan kognitif peserta didik.
4. Cerita yang mampu melibatkan emosi individu, dapat membantu dalam pengembangan aspek emosi peserta didik.
5. Dapat membantu peserta didik dalam mengenal berbagai peran ataupun bermacam pekerjaan yang ada di masyarakat.
Jika teknik bercerita dipandang efektif dalam membantu siswa dalam mengembangkan seluruh aspek pribadinya yang meliputi kognitif, afektif dan psikomotorik, maka teknik ini juga bisa digunakan dalam melaksanakan layanan bimbingan. Ketika konselor hendak memberikan layanan informasi kepada para siswa secara klasikal maupun dalam kelompok yang lebih kecil, teknik bercerita dapat dipertimbangkan untuk dipilih sebagai cara dalam menyampaikan informasi yang dimaksud.
Bercerita dalam konteks bimbingan, dipandang sebagai alat dalam mencapai tujuan bimbingan. Melalui bercerita konselor atau petugas bimbingan memberi pengalaman belajar kepada siswa untuk mencapai tujuan bimbingan yang telah dirancang. Dengan demikian, tujuan dalam penyampaian cerita, dirancang untuk mencapai tujuan bimbingan sesuai dengan yang direncanakan.
Teknik ini bisa digunakan untuk sasaran yang berada pada usia kanak-kanak maupun remaja bahkan dewasa. Namun pada umumnya teknik bercerita lebih mampu menarik perhatian siswa yang berada pada masa kanak-kanak, yaitu pada jenjang pendidikan Pra Sekolah (Play group, TK) dan SD. Hal ini sesuai dengan karakteristik anak-anak yang pada masa ini merupakan masa fantasi. Mereka senang mendengarkan cerita dan sudah mampu menyimak suatu cerita yang disampaikan.
Meski demikian, teknik bercerita juga mampu menarik perhatian orang dewasa. Andrey Wongso penulis buku tentang motivasi yang ditulis untuk orang dewasa dan mampu terjual dengan kategori best- seller, dalam tulisannya juga suka mengawali dengan cerita. Cerita yang diangkat bisa jadi merupakan kisah nyata yang dialami penulis maupun mengambil dongeng-dongeng lama yang sarat akan nilai-nilai falsafah hidup. Penyajian cerita, dimaksudkan sebagai model yang selanjutkan dibahas pada setiap topik di dalam bukunya.
Dalam kontek bimbingan, agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan, dalam menggunakan teknik bercerita hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Isi cerita dikaitkan dengan dunia kehidupan siswa yang akan mendapat bimbingan. Dengan demikian mereka dapat memahami dan menangkap pesan-pesan bimbingan yang disampaikan melalui cerita, karena memaparkan kondisi yang sesuai dengan kehidupan nyata mereka.
2. Suasana dalam bercerita hendaknya dapat memberikan perasaan yang gembira, asyik dan lucu, sesuai dengan kehidupan siswa yang penuh dengan perasaan suka.
3. Cerita yang disampaikan hendaknya unik dan menarik bagi siswa, serta dapat melibatkan suasana emosi dan membangkitkan motivasi untuk mengikuti cerita hingga selesai.
4. Bahasa yang digunakan dalam bercerita, hendaknya berupa bahasa tutur yang sederhana, sehingga mudah dimengerti dan dapat diterima siswa.
5. Cerita yang dipilih hendaknya cerita yang memang menarik dan memikat perhatian pembimbing. Dengan demikian pembimbing atau konselor akan mudah dalam menguasai cerita tersebut dan akan sungguh-sungguh dalam menyampaikannya kepada siswa. (BERSAMBUNG)