Feeds:
Pos
Komentar

TAHAP-TAHAP LAYANAN INFORMASI BIMBINGAN KONSELING DENGAN TEKNIK BERCERITA

Pemberian layanan informasi bimbingan dengan teknik bercerita, dapat dilaksanakan dengan prosedur sebagai berikut:

1. Tahap Persiapan
Pada tahap persiapan, pembimbing merancang rencana layanan informasi bimbingan yang akan disampaikan kepada siswa. Adapun aktivitas pada tahap persiapan ini adalah:

a.Identifikasi kebutuhan/ masalah siswa, yaitu kegiatan untuk mengungkap materi apa yang dibutuhkan oleh sebagian besar siswa.

b.Menetapkan tujuan/ kompetensi yang akan dicapai. Tujuan cerita ditetapkan berdasarkan pada tujuan bimbingan yang telah dirancang dan tercantum dalam program bimbingan. Tujuan yang dirumuskan merupakan tujuan bimbingan yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa, bukan tujuan dari cerita itu sendiri. Perlu diingat bahwa bercerita di sini merupakan alat untuk mencapai tujuan bimbingan.

c.Menetapkan tema cerita yang akan disampaikan. Berdasarkan pada tujuan atau kompetensi yang telah ditetapkan maka pembimbing dapat menentukan tema cerita. Tema tersebut tentunya disesuaikan dengan tujuan, materi dan kondisi sasaran atau siswa yang akan dibimbing. Cerita yang akan disampaikan bias disusun sendiri oleh pembimbing. Di samping itu pembimbing juga bias mengambil dari cerita-cerita yang telah ada, tetapi hendaknya dimodifikasi dan disesuaikan dengan tujuan bimbingan yang hendak dicapai.

d.Menetapkan teknik dan media yang akan digunakan dalam bercerita. Pembimbing bias memilih teknik atau media yang sesuai dengan isi cerita, tujuan bimbingan, karakteristik siswa yang menerima bimbingan serta kesiapan pembimbing sendiri dalam menggunakan teknik maupun media tersebut.

Persiapan tersebut di atas kemudian disusun secara tertulis dalam bentuk Persiapan Bimbingan atau Satuan Layanan Bimbingan.

2. Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan merupakan kegiatan menyampaikan cerita kepada siswa, sesuai dengan rencana yang telah disiapkan. Langkah-langkah dalam pelaksanaan ini yaitu:

a. Pembukaan, awal pertemuan dengan siswa, pembimbing membuka kegiatan yang akan dilaksanakan. Pada saat pembukaan aktivitas pembimbing yaitu: (1) Menciptakan rapport dan memotivasi siswa dalam mengikuti kegiatan dengan menginformasikan kegiatan dan tujuan yang hendak dicapai; (2) Mengatur tempat duduk siswa sesuai dengan formasi yang dirancang, bisa dalam bentuk melingkar, setengah lingkaran, bentuk u dan sebagainya. Di samping itu bias duduk dikursi atau lesehan di tikar/ karpet; (3) Menyiapkan media yang akan digunakan; (4) menggali pengalaman awal siswa terkait dengan materi bimbingan yang akan disampaikan melalui bercerita;(5) menyampaikan topic dan tujuan bimbingan serta (6) aturan-aturan yang harus diikuti selama proses bercerita.

b. Kegiatan inti, yaitu menuturkan atau menyampaikan cerita yang telah disiapkan kepada siswa. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan meliputi: (1) Vocal, pembimbing hendaknya memperhatikan suaranya saat menyampaikan cerita, aspek yang diperhatikan meliputi volume suara, intonasi, warna suara irama dan cara pengucapannya; (2) Mimik pantomimik, yaitu peragaan tubuh dan ekspresi wajah saat menyampaikan cerita; (3) pengelolaan kelas, pembimbing memperhatikan keterlibatan siswa saat bercerita, perhatian yang merata kepada seluruh siswa; (4) penggunaan media disesuaikan dengan teknik cerita yang akan dipilih apakah menggunakan papan flannel, gambar, boneka dsb.

c.Diskusi/ Tanya jawab, setelah selesai bercerita, maka pembimbing mendiskusikan dengan para siswa dalam rangka memahami materi bimbingan yang disampaikan melalui cerita

d.Penutupan, pembimbing mengakhiri kegiatan dengan membuat kesimpulan dan memberi penekanan-penekanan pada pesan-pesan bimbingan yang disampaikan.

e.Evaluasi, yaitu memberikan penilaian terhadap siswa. Evaluasi dimaksudkan untuk melihat keberhasilan siswa dalam menerima dan memahami materi bimbingan yang disampaikan melalui cerita.

MACAM MACAM TEKNIK BERCERITA

Dalam menyampaikan suatu cerita, seorang konselor atau pembimbing dapat menggunakan berbagai cara ataupun teknik. Teknik mana yang akan dipilih bisa disesuaikan dengan usia siswa, tujuan yang akan dicapai, sarana prasarana yang tersedia serta kesiapan dari pembimbing sendiri. Menurut Moeslikhatoen R (1999), beberapa teknik bercerita, antara lain yaitu:

1. Bercerita dengan membaca buku cerita. Teknik ini dilakukan dengan cara pembimbing atau konselor menyampaikan cerita dengan membacakan buku cerita secara langsung. Teknik ini bias digunakan apabila pembimbing yakin bahwa tema dan materi cerita yang dibacakan benar-benar sesuai dengan materi dan kompetensi bimbingan yang akan dicapai. Agar cerita yang disampaikan tetap menarik, maka pembimbing disyaratakan menguasai teknik membaca dengan baik. Aspek yang perlu diperhatikan seperti intonasi suara, cara pelafalan kata atau kalimat, tempo, warna suara serta ekspresi yang menggambarkan suasana cerita.

2. Bercerita dengan menggunakan ilustrasi gambar. Pembimbing dapat menyampaikan cerita dengan menggunakan ilustrasi gambar sebagai media. Penggunakan gambar dapat menarik perhatian siswa sehingga dapat membantu dalam memusatkan perhatian terhadap cerita yang sedang disampaikan. Di samaping itu, ilustrasi gambar juga dapat membantu siswa agar lebih mudah dalam menangkap pesan-pesan yang disampaikan dalam cerita. Ilustarsi gambar dapat berupa gambar seri maupun gambar lepas. Gambar berseri merupakan sejumlah gambar yang menggambarkan suasana yang sedang diceritakan dan menunjukkan adanya kontinyuitas antara gambar yang satu dengan lainnya. Sedang gambar lepas merupakan gambar yang menunjukkan situasi ataupun tokoh dalam cerita yang dipilih untuk menggambarkan situasi-situasi tertentu, antara gambar satu dengan lainnya tidak menunjukkan kontinyuitas.

3. Bercerita dengan menggunakan papan flannel. Apabila dalam bercerita hendak menekankan pada urutan kejadian dan karakter tokoh sebagai model bagi siswa, maka tokoh-tokoh yang dimodelkan tersebut dapat digambarkan dan ditempel di papan flannel. Papan flannel merupakan media berupa papan seperti papan tulis, yang dilapisi kain flannel yang dapat digunakan untuk menempel gambar-gambar. Gambar-gambar tersebut dapat disiapkan sendiri oleh pembimbing ataupun mengambil gambar yang sudah ada seperti dari majalah atau Koran yang digunting sesuai dengan pola yang diinginkan. Bagian belakang dari kertas bergambar tersebut kemudian dilapisi dengan kertas gosok atau kaian perekat sebagai media untuk merekatkan di papan flannel. Gambar-gambar yang disiapkan dapat ditempel ataupun diambil kembali sesuai dengan kebutuhan pada saat proses penyampaian cerita.

4. Bercerita dengan menggunakan media boneka. Tokoh yang terlibat dalam suatu cerita, dapat ditampilkan melalui sosok boneka. Boneka yang digunakan bisa berbentuk boneka manusia maupun boneka binatang. Boneka tersebut digunakan untuk menunjukkan karakter atau watak dari pemegang peran dalam cerita.

5. Bercerita dengan dramatisasi. Ketika pembimbing menyampaikan suatu cerita, maka pembimbing melakukannnya sambil memainkan karakter dari tokoh yang sedang diceritakan. Misalnya ketika menceritakan seorang kakek yang berjalan tertatih-tatih dengan membawa tongkat, maka pembimbing menirukan sebagaimana jalannya seorang kakek yang tertatih-tatih.

6. Bercerita dengan memainkan jari tangan. Pembimbing dapat berkreasi menciptakan cerita yang disampaikan dengan cara memainkan jari-jari tangan. Jari-jari digunakan sebagai alat untuk menggambarkan bentuk-bentuk tertentu untuk mewakili tokoh dalam cerita seperti bentuk burung terbang, bentuk kepala anjing ataupun untuk menggambarkan aktivitas tertentu.
(BERSAMBUNG)

BERCERITA SEBAGAI TEKNIK DALAM BIMBINGAN KONSELING

Bercerita selama ini telah digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran Bahasa. Namun demikian, dalam perkembangannya bercerita juga dipandang bisa digunakan dalam pembelajaran selain bidang bahasa, seperti matapelajaran matematika, PPKN dan sebagainya (Republika, 16 Juli 2004).

Sebagai suatu teknik dalam pembelajaran, bercerita bermanfaat bagi siswa dalam mengembangkan aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik. Sebab melalui cerita, siswa mendapatkan informasi tentang fakta, konsep maupun pengetahuan yang terangkai dalam suatu kisah. Cerita juga menampilkan model-model perilaku yang ditunjukkan oleh para pemegang peran atau tokoh dalam cerita.

Para siswa sebagai penyimak cerita, biasanya juga terlibat secara emosional pada saat mendengar atau membaca cerita. Dengan demikian maka baik aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik siswa dapat dibantu perkembangannya melalui bercerita.
Sebagai suatu teknik dalam pembelajaran, bercerita memiliki beberapa kelebihan dibanding dengan teknik yang lain.

Kelebihan teknik tersebut sebagaimana disarikan dari pendapatnya Muslikhatun (1996) dan Abdul Aziz Abdul Majid (2003) adalah sebagai berikut:
1. Melalui cerita dapat memberi suasana yang menyenangkan dan mengasyikkan, sebab cerita merupakan bentuk dari seni sastra yang memiliki keindahan dan kenikmatan, terlebih jika isi cerita dekat dengan lingkungan kehidupan anak.
2. Cerita yang menyajikan model perilaku melalui tokoh yang diceritakan dan sarat dengan nilai-nilai, mampu menanamkan sikap jujur, berani, setia, ramah dan sikap positif lainnya yang berguna dalam pembentukan budi pekerti atau kepribadian peserta didik.
3. Melalui cerita dapat mengenalkan fakta-fakta alam sekitar maupun pengetahuan sosial yang berguna bagi perkembangan kognitif peserta didik.
4. Cerita yang mampu melibatkan emosi individu, dapat membantu dalam pengembangan aspek emosi peserta didik.
5. Dapat membantu peserta didik dalam mengenal berbagai peran ataupun bermacam pekerjaan yang ada di masyarakat.

Jika teknik bercerita dipandang efektif dalam membantu siswa dalam mengembangkan seluruh aspek pribadinya yang meliputi kognitif, afektif dan psikomotorik, maka teknik ini juga bisa digunakan dalam melaksanakan layanan bimbingan. Ketika konselor hendak memberikan layanan informasi kepada para siswa secara klasikal maupun dalam kelompok yang lebih kecil, teknik bercerita dapat dipertimbangkan untuk dipilih sebagai cara dalam menyampaikan informasi yang dimaksud.

Bercerita dalam konteks bimbingan, dipandang sebagai alat dalam mencapai tujuan bimbingan. Melalui bercerita konselor atau petugas bimbingan memberi pengalaman belajar kepada siswa untuk mencapai tujuan bimbingan yang telah dirancang. Dengan demikian, tujuan dalam penyampaian cerita, dirancang untuk mencapai tujuan bimbingan sesuai dengan yang direncanakan.

Teknik ini bisa digunakan untuk sasaran yang berada pada usia kanak-kanak maupun remaja bahkan dewasa. Namun pada umumnya teknik bercerita lebih mampu menarik perhatian siswa yang berada pada masa kanak-kanak, yaitu pada jenjang pendidikan Pra Sekolah (Play group, TK) dan SD. Hal ini sesuai dengan karakteristik anak-anak yang pada masa ini merupakan masa fantasi. Mereka senang mendengarkan cerita dan sudah mampu menyimak suatu cerita yang disampaikan.

Meski demikian, teknik bercerita juga mampu menarik perhatian orang dewasa. Andrey Wongso penulis buku tentang motivasi yang ditulis untuk orang dewasa dan mampu terjual dengan kategori best- seller, dalam tulisannya juga suka mengawali dengan cerita. Cerita yang diangkat bisa jadi merupakan kisah nyata yang dialami penulis maupun mengambil dongeng-dongeng lama yang sarat akan nilai-nilai falsafah hidup. Penyajian cerita, dimaksudkan sebagai model yang selanjutkan dibahas pada setiap topik di dalam bukunya.

Dalam kontek bimbingan, agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan, dalam menggunakan teknik bercerita hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Isi cerita dikaitkan dengan dunia kehidupan siswa yang akan mendapat bimbingan. Dengan demikian mereka dapat memahami dan menangkap pesan-pesan bimbingan yang disampaikan melalui cerita, karena memaparkan kondisi yang sesuai dengan kehidupan nyata mereka.
2. Suasana dalam bercerita hendaknya dapat memberikan perasaan yang gembira, asyik dan lucu, sesuai dengan kehidupan siswa yang penuh dengan perasaan suka.
3. Cerita yang disampaikan hendaknya unik dan menarik bagi siswa, serta dapat melibatkan suasana emosi dan membangkitkan motivasi untuk mengikuti cerita hingga selesai.
4. Bahasa yang digunakan dalam bercerita, hendaknya berupa bahasa tutur yang sederhana, sehingga mudah dimengerti dan dapat diterima siswa.
5. Cerita yang dipilih hendaknya cerita yang memang menarik dan memikat perhatian pembimbing. Dengan demikian pembimbing atau konselor akan mudah dalam menguasai cerita tersebut dan akan sungguh-sungguh dalam menyampaikannya kepada siswa. (BERSAMBUNG)

PENGERTIAN BERCERITA

Sebelum membahas tentang bercerita, akan diawali terlebih dahulu dengan konsep cerita. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, cerita diartikan sebagai:
1) Sebuah tutur yang melukiskan suatu proses terjadinya suatu peristiwa secara panjang lebar.
2) Karangan yang menyajikan jalannya kejadian-kejadian atau peristiwa.
3) Suatu lakon yang diwujudkan dalam pertunjukan seperti drama, sandiwara, film dan sebagainya.

Berdasarkan pada Kamus Bahasa Indonesia di atas, maka dapat dimengerti bahwa cerita itu merupakan tutur atau tuturan, yaitu uraian atau gambaran atau deskripsi dari suatu peristiwa atau kejadian. Seperti dongeng tentang Roro Mendut yang menggambarkan proses terjadinya Candi Mendut.

Cerita juga dipandang sebagai suatu karangan, hal ini menunjukkan bahwa cerita itu disusun atau di buat oleh seseorang. Karangan tersebut bisa jadi disajikan secara tertulis maupun secara lesan. Karangan dalam cerita berisi tentang kejadian atau peristiwa, baik peristiwa alam maupun kejadian yang dialami manusia.

Peristiwa atau kejadian yang disusun tersebut, bisa jadi disajikan dalam bentuk pertunjukan yang bisa ditonton. Sehingga cerita tidak hanya bisa dinikmati dalam bentuk tuturan yang disimak dalam bentuk tulisan maupun lesan, tetapi juga dapat dinikmati dalam bentuk sajian permainan peran seperti sandiwara, drama, sinetron, wayang dan sebagainya.

Sementara menurut Abdul Aziz Abdul Majid (2001:8) cerita merupakan salah satu bentuk dari seni sastra yang bisa dibaca atau didengar. Sebagai salah satu bentuk kesenian, maka cerita memiliki keindahan dan dapat dinikmati. Pada umumnya cerita bisa menimbulkan kesenangan baik pada anak-anak maupun orang dewasa.

Berdasarkan pada pendapat Abdul Majid di atas, maka dapat dikatakan bahwa cerita merupakan karangan yang termasuk dalam kategori seni sastra. Karangan tersebut dapat disampaikan secara tertulis yang dapat dibaca maupun secara lesan yang dapat didengar oleh penyimak.
Sedang menurut Heri Hidayat (2003) cerita merupakan tuturan, yaitu upaya mendeskripsikan atau menggambarkan terjadinya suatu peristiwa.

Di samping itu cerita juga dipandang sebagai karangan, yaitu upaya menuturkan perbuatan, kejadian, pengalaman dan lain-lain baik berupa kisah nyata (peristiwa yang benar-benar terjadi) maupun rekaan (bukan kisah nyata). Maka dapat dikatakan bahwa cerita itu bisa jadi peristiwa yang benar-benar terjadi ataupun peristiwa yang dikarang, bukan peristiwa yang sebenarnya Cerita yang bukan peristiwa yang sebenarnya biasa disebut dengan dongeng.

Jika cerita disebut sebagai suatu karangan, bercerita dapat dikatakan sebagai menyampaikan karangan. Menurut Heri Hidayat (2003) bercerita dikatakan sebagai aktivitas menuturkan sesuatu yang mengisahkan tentang perbuatan, pengalaman atau suatu kejadian yang sungguh-sungguh terjadi maupun hasil rekaan. Bercerita dikatakan sebagai menuturkan, yaitu menyampaikan gambaran atau deskripsi suatu kejadian.

Menurut Abdul Majid (2001:9) bercerita berarti menyampaikan cerita kepada pendengar atau membacakan cerita bagi mereka. Dari batasan yang dikemukakan oleh Abdul Majid ini menunjukkan paling tidak ada 3 komponen dalam bercerita, yaitu: (1) pencerita, orang yang menuturkan atau menyampaikan cerita, cerita dapat disampaikan secara lesan maupun tertulis; (2) cerita atau karangan yang disampaikan, cerita ini bisa dikarang sendiri oleh pencerita atau cerita yang telah dikarang atau ditulis oleh pengarang lain kemudian disampaikan oleh pencerita; (3) penyimak yaitu individu atau sejumlah individu yang menyimak cerita yang disampaikan baik dengan cara mendengarkan maupun membaca sendiri cerita yang disampaikan secara tertulis.
(bersambung)

TEKNIK BERCERITA
DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING
Oleh: Ella Faridati Zen

Bimbingan dan Konseling sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu siswa, dilaksanakan melalui berbagai macam layanan. Salah satu jenis layanan bimbingan yang banyak diberikan oleh konselor atau petugas bimbingan adalah layanan informasi.

Layanan informasi merupakan layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada siswa dengan memberikan berbagai informasi yang diperlukan dan berguna bagi perkembangan diri siswa. Informasi yang disampaikan terkait dengan berbagai hal yang berhubungan dengan perkembangan pribadi, sosial, belajar maupun karir siswa di masa mendatang.

Informasi dapat disampaikan secara lesan maupun tertulis. Informasi secara lesan, umumnya dilaksanakan melalui kegiatan bimbingan kelompok di kelas dengan menggunakan metode ekspositori atau ceramah. Sementara informasi secara tertulis, disajikan dalam bentuk tulisan melalui papan bimbingan, brosur, liflet maupun buku paket yang dapat dibaca secara mandiri oleh siswa yang sudah bias membaca.

Informasi yang disampaikan kepada siswa dengan menggunakan metode ceramah di kelas, seringkali kurang mendapat perhatian yang maksimal dari para siswa. Akibatnya, materi yang sebenarnya bermanfaat bagi siswa dalam mengembangkan dirinya, tidak dapat diterima secara maksimal.

Metode ceramah memang memiliki sejumlah kelemahan dibandingkan dengan metode lain. Jika gaya penyampaian yang ditunjukkan konselor monoton tanpa ada variasi, maka siswa menjadi bosan dalam mendengarkannya. Persepsi siswa yang memandang bahwa materi bimbingan tidak lebih penting dibandingkan dengan materi pelajaran, juga mempengaruhi mereka dalam menerima informasi. Akibatnya, mereka hanya memandang dengan sebelah mata terhadap informasi bimbingan yang diberikan konselor.

Kondisi di mana siswa menunjukkan sikap yang kurang perhatian terhadap layanan bimbingan yang disampaikan melalui ekspositori, merupakan tantangan tersendiri bagi konselor. Di satu sisi, memang teknik ekspositori memiliki kelebihan. Antara lain teknik ini dalam waktu yang bersamaan dapat melayani banyak siswa, lebih efisien dalam hal waktu maupun fasilitas yang diperlukan, mudah dilaksanakan disbanding dengan teknik yang lain, seperti diskusi, bermain peranan atau permainan simulasi.

Bagaimana menyelenggarakan layanan informasi yang mampu menarik perhatian siswa, sehingga tujuan yang diharapkan dapat dicapai, dan dalam pelaksanaannya juga efisien, merupakan tantangan tersendiri bagi konselor. Salah satu model yang dinilai tetap efisien dan efektif yang bisa dijadikan sebagai alternatif dalam melaksanakan layanan informasi yaitu teknik ekspositori dengan bercerita.

Pada umumnya orang senang dengan cerita, baik dalam bentuk dongeng, legenda ataupun kisah. Orang tua maupun anak-anak pada umumnya senang dengan cerita. Tentu saja cerita untuk anak-anak berbeda dengan yang disajikan bagi remaja maupun orang dewasa. Oleh karena itu cerita bias digunakan sebagai daya tarik dalam menyampaikan materi bimbingan dalam layanan informasi. (bersambung)

Bimbingan dapat diartikan sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu (siswa) secara berkelanjutan dan sistimatis, agar siswa dapat memahami diri dan lingkungannya, dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan dapat mengembangkan diri secara optimal untuk kesejahteraan diri dan masyarakat, sesuai dengan nilai-nilai yang dianut.

Dari pengertian tersebut telah tersirat bahwa tujuan bimbingan yaitu siswa dapat (1) memahami diri dan lingkungan; (2) mengarahkan diri; (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan dan (4) mengembangkan diri.         

Pengertian bimbingan konseling berdasarkan SK Mendikbud no.025/D/1995, disebutkan sebagai “pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karir, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan pada norma-norma yang berlaku”.          

Namun setiap bantuan yang diberikan kepada siswa, belum tentu termasuk dalam bimbingan. Jika guru membantu siswa dalam menyelesaikan tugas atau memberi beasiswa misalnya, bantuan ini tidak termasuk dalam bimbingan dan konseling.         

Bantuan bimbingan dimaksudkan untuk membantu siswa agar mandiri dan mencapai perkembangan optimal, sesuai dengan tingkat perkembangannya. Bantuan diberikan secara sistematis dan berkelanjutan, meliputi bidang bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karir.Sedangkan misi yang diemban yaitu memberikan kan pelayanan bantuan agar  anak berkehidupan secara efektif, mandiri dan berkembang optimal, melalui berbagai kompetensi yang dimilikinya, melalui pengenalan diri, pemahaman lingkungan, pengambilan keputusan dalam rangka merencanakan masa depan.

Sementara tujuan umum bimbingan dan konseling yaitu membantu peserta didik atau siswa dalam  memahami diri dan lingkungan;  mengarahkan diri;  menyesuaikan diri dengan lingkungan dan  mengembangkan  potensi dan kemandirian diri secara optimal pada setiap tahap perkembangannya.

      

Halo dunia!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!